top of page

Team Bumi's Sensing Journey

  • Writer: Team Bumi
    Team Bumi
  • Jan 15, 2019
  • 12 min read

Updated: May 6, 2019



Sensing Journey

Bumi Kami melakukan tahap sensing sebagai tahap awal kami dalam menjalankan project. Sensing adalah sebuah proses pembelajaran yang memungkinkan kita keluar dari rutinitas dan secara langsung mengalami/merasakan sebuah system melalui kacamata pemangku kepentingan yang berbeda.



Tentang Sampah

Di bulan Oktober 2018, kami memulai sensing journey kami dengan melakukan emphaty walk dan dialog walk dengan anggota team.


Empathy walk merupakan latihan “Listening” dengan melakukan dialog dengan seseorang yang memiliki latar belakang berbeda. Tujuannya adalah meningkatkan rasa empati terhadap seseorang yang jauh berbeda dengan Anda, meningkatkan kapasitas “open mind”, “open heart” dan “open will” sehingga Anda mampu memperkaya perspektif dan mengasah kreativitas, dan mengembangkan keterampilan Anda membangun hubungan autentik melintasi batasan-batasan yang signifikan.


Dialog walk merupakan latihan untuk membuka diri dengan memaparkan kerentanan pribadi (personal vulnerability). Tujuannya adalah melatih kemampuan listening dengan mengenali VOJ, VOC, dan VOF dalam diri Anda, meningkatkan keberanian untuk membuka diri dengan orang lain untuk menjadi individu yang autentik, dan belajar menciptakan ruang untuk percakapan generatif demi membangun hubungan yang hangat dan tulus dengan para pemangku kepentingan di dalam kehidupan Anda.


Dalam dialog walk, kami berusaha untuk saling memahami satu sama lain. Selain dialog walk, kami mengumpulkan data-data terkini soal sampah dari berita dan dari jurnal-jurnal penelitian untuk dijadikan bahan diskusi dan dibuatkan info grafis sebagai bahan belajar kami. Kami kemudian sepakat untuk mencatat berapa banyak sampah yang kami pribadi hasilkan selama satu minggu hingga satu bulan untuk memahami seserius apa dampak aktifitas manusia terhadap lingkungan. Dengan pola makan vegan, Alivia menghasilkan 3.157 sampah yang tidak bisa di daur ulang, 1.8 kg sampah yang bisa di daur ulang (botol plastic dan kaca), dan 23.3 kg sampah organic. Sampah yang dihasilkan didominasi oleh sampah organik karena pola makan vegan. Jenis sampah organik yang dihasilkan berupa batang sayur, kulit buah, dan sedikit sisa-sisa makanan yang tidak termakan. Sampah yang tidak bisa di daur ulang terdiri dari plastik kemasan makanan (seperti bumbu dapur instan, kopi, detergen cair), kapas, tissue, pembalut, kantong belanja (kadang terpaksa menerima belanjaan di bungkus kantong karena sudah terlanjur dibungkus oleh penjualnya), dan lain-lain. Total 28.257 kg sampah dihasilkan dari hunian apartemen tipe studio berisikan dua orang. Alivia hanya bisa berharap pihak apartement dan Dinas Kebersihan Kota Tangerang memiliki sistem kelola sampah yang baik. Di apartement tersebut, jenis sampah tidak dipisahkan berdasarkan jenis. Banyak juga orang yang belum paham dengan pentingnya memilah sampah. Ada beberapa teman yang berkata “untuk apa dipisah begitu, toh nantinya bakal nyampur juga”. Setelah dijelaskan maksud dari pemilahan sampah inipun, beberapa teman masih skeptis dan menganggap itu adalah upaya yang sia-sia dan hanya akan berdampak jika dilakukan serentak oleh semua orang. Pertanyaannya, bagaimana kita akan mencapai titik di mana semua orang serentak melakukan sebuah aksi jika tidak ada yang memulainya? Solviana juga memonitor jenis dan kuantitas sampah yang dihasilkan dari aktivitasnya di kos. Dalam waktu sebulan, Solviana bisa menghasilkan sampah hingga 30 kg, didominasi oleh sampah organik berupa bonggol dan kulit jagung karena Solviana memiliki usaha kuliner dengan memanfaatkan jagung. Sampah yang bisa di recycle dan tidak bisa di recycle jumlahnya sedikit, didoninasi oleh bungkus detergen, kemasan sampo dan sabun, tissue, dan gelas plastik. Seperti pada umumnya yang dilakukan orang lain di desa, cara menangani sampah adalah dengan cara membakarnya. Solviana memiliki sebuah bak penampung sampah dari semen di depan kosnya. Sampah (baik organik maupun non organik) akan dibakar begitu bak penampung penuh. Hal ini sebenarnya jauh dari kata efektif, selain karena polusi udara yang ditimbulkan, sampah akan sulit dibumihanguskan di musim hujan. Penumpukan sampah basah hanya akan menjadi sumber masalah lain seperti menjadi sumber penyakit.


Dwi, Salma, Nara, dan Iza yang merupakan anak kos di kota besar juga turut mengamati jenis sampah yang dihasilkan meskipun tidak ditimbang (karena tidak memiliki timbangan di kos). Mayoritas sampah yang mereka hasilkan adalah kertas, tissue, dan kemasan makanan, detergen, sabun, dan sampo.


Dari proses pembelajaran ini, kami merasakan dampak dari aktifitas kami pribadi pada kesehatan lingkungan. Kami pun berdiskusi tentang langkah-langkah apa saja yang bisa kami lakukan untuk mengurangi sampah yang kami hasilkan. Kami pun sepakat untuk mengumpulkan tips-tips yang mudah untuk dilakukan sebagai upaya mengurangi sampah, terutama sampah plastik.


Selain mencoba merasakan dampak aktivitas kami sendiri terhadap lingkungan, kami juga mengamati perilaku masyarakat sekitar lingkungan tempat tinggal kami dan jenis sampah apa yang paling banyak bertebaran di Kawasan tinggal dan wisata.


Di daerah perkotaan, seperti Karawaci, Tangerang, banyak sampah sedotan plastik dan plastik es ½ kg bertebaran di jalan, apalagi di wilayah sekolah. Hal ini karena kebanyakan pedagang jajan sekolah menyajikan minuman dengan menggunakan plastik es. Gelas plastik pun demikian. Sampah sejenis tidak hanya ditemukan di Kawasan sekolah, tapi juga di tempat di mana bakul kopi keliling mangkal.


Salah satu Team di Kupang mengunjungi kampung nelayan di Oesapa, dan menemukan kondisi pantai yang sangat memprihatinkan. Kondisi tersebut tidak hanya berbahaya bagi ekosistem laut, tetapi juga bagi kesehatan penduduk setempat. Meskipun sudah disediakan tempat sampah (organik dan non organik), sampah tetap bertebaran di mana-mana. Bahkan ada warga yang membuang sampah di selokan di depan rumahnya. Kondisi pesisir pantai tidak kalah menyedihkan. Timbunan sampah rumah tangga, tali raffia, ban bekas, dan karung plastik. Tidak heran ditemukan banyak sampah plastik dalam perut paus yang terdapar di Wakatobi di bulan November 2018. Kondisi pesisir pantainya saja sudah seperti ini, tentu banyak sekali sampah yang berakhir di laut dan membahayakan ekosistem laut kita. Padahal sepanjang pesisir pantai kampung nelayan tersebut telah dibangun jogging track yang bisa menjadi daya tarik wisata. Bukankah warga sekitar juga akan sangat diuntungkan jika banyak wisatawan berkunjung. Bagaimana orang bisa tertarik untuk berkunjung jika kondisi pantainya sudah seperti itu. Sejak bertahun-tahun lalu, kondisi pantai tidak berubah menjadi lebih baik, namun menjadi tambah buruk seiring dengan makin maraknya penggunaan plastic sekali pakai.


Kurangnya kesadaran tentang kebersihan lingkungan ternyata tidak mengenal golongan berpendidikan maupun tidak. Di depan kantor BUMN, selokannya penuh dengan sampah.

Tidak hanya di kota, di desa-desa di Sumba pun, sampah bertebaran di mana-mana. Jelas terlihat kalau mayoritas sampah yang bertebaran di sepanjang jalan adalah gelas dan botol plastik minuman kemasan. Tampaknya warga desa mulai menikmati hidup praktis, tidak mau kalah dengan kota-kota besar. Saat kami berkunjung ke rumah warga di desa, mereka menyuguhkan air minum dalam kemasan. Saat ditanya kenapa lebih menyukai minuman kemasan, mereka menjawab bahwa itu lebih praktis karena tidak perlu repot menyeduh air panas untuk membuat teh dan tidak perlu cuci piring. Sama halnya dengan desa-desa di Kab. Timor Tengah Utara, warga desa yang berjualan di sekitar sekolah dasar banyak menjajakan minuman kemasan dalam gelas plastik. Akibat perubahan pola perilaku ini, desa yang dulunya asri dan bebas sampah tinggal kenangan.


Melalui tahap sensing ini, kami jadi semakin yakin untuk menjalankan sebuah program yang bisa mengedukasi orang untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik sekali pakai. Dengan potensi wisata desa yang kami telusuri, kami pun sepakat untuk focus pada Sustainable Tourism Industry untuk mengupayakan pelestarian lingkungan di area wisata.



Stakeholder Interview

Stakeholder interview merupakan proses wawancara yang dilakukan dengan para pemangku kepentingan utama baik dalam personal maupun profesional sistem Anda. Dalam kaitannya dengan profesional sistem Anda, pemangku kepentingan yang dimaksudkan disini dapat dibedakan menjadi:

  • Pemangku kepentingan kunci adalah pemangku kepentingan yang berpengaruh secara signifikan terhadap pekerjaan/peran/inisiatif Anda, yaitu pemangku kepentingan yang memiliki: legitimasi (baik secara hukum -de jure- maupun secara pengakuan masyarakat -de facto-); sumber daya (pengetahuan, keterampilan, finansial, dsb); dan jejaring (network). Di dalam pemangku kepentingan kunci ini, Anda juga dapat mengidentifikasi “veto player”, yaitu dimana tanpa dukungan pemangku kepentingan ini, maka Anda akan sulit untuk melakukan pekerjaan/peran/inisiatif Anda.

  • Pemangku kepentingan primer adalah mereka yang terpengaruh secara langsung atas pekerjaan/peran/inisiatif Anda baik itu secara positif maupun negatif.

  • Pemangku kepentingan sekunder adalah mereka yang terpengaruh secara sementara atau tidak langsung atas pekerjaan/peran/inisiatif Anda baik itu secara positif maupun negatif.

Tujuan dari dilakukannya Stakeholder interview adalah untuk memetakan pemangku kepentingan yang dipengaruhi atau mempengaruhi pekerjaan/peran/ inisiatif Anda, memahami hubungan antar pemangku kepentingan, kepedulian, dan peran dari pemangku kepentingan Anda, untuk memahami pekerjaan/peran/inisiatif Anda dari perspektif pemangku kepentingan Anda. Proses ini akan menjawab pertanyaan (a.) Apa yang menjadi harapan dari pemangku kepentingan yang saya layani dari peran dan pekerjaan yang saya lakukan? (b.) Mengapa atau untuk apa mereka membutuhkan Anda?


Alivia melakukan Stakeholder interview bersama teman-teman di Komunitas Aksi untuk NTT yang diharapkan akan menjadi salah satu partner komunitas dalam menjalankan program Bumi Kami. Beberapa anggota Aksi untuk NTT akan menemani Team Bumi untuk melakukan Sensing di Kab. TTU. Diskusi dihadiri oleh 20 anggota team Aksi untuk NTT.


Alivia menjelaskan maksud dan tujuan dari didirikannya Bumi Kami. Hal ini ternyata memiliki visi yang serupa dengan salah satu program jangka panjang komunitas Aksi untuk NTT, yaitu Aksi untuk Alam di mana mereka aktif melakukan kampanye tentang pelestarian lingkungan. Team Bumi sangat terkesan dengan semangat teman-teman di Aksi untuk NTT yang bersedia membantu perjalanan sensing Team Bumi secara sukarela.


Team Aksi kemudian memberikan masukan perihal wilayah mana saja yang perlu di kunjungi di Pulau Timor dengan mempertimbangkan kesiapan kelompok pengerajin di wilayah target dan potensi yang dimiliki desa. Karena terbatasnya waktu, maka diputuskan untuk mengunjungi hanya dua desa di Kab. TTU yang berjarak 6 jam perjalanan dari kota Kupang.


Diskusi mengenai program juga dilakukan. Team Aksi memberikan beberapa ide program yang bisa di jalankan bersama di Kota Kupang. Sebuah program kemudian disetujui untuk dijadikan program kolaborasi, yaitu Massive Action Beach Clean Up yang rencananya diadakan di bulan September.


Aksi untuk NTT juga siap membantu salah satu program Bumi Kami yaitu Eco-Trip yang akan di lakukan di desa binaan sebagai upaya pengembangan desa binaan menjadi desa wisata yang kaya akan budaya dan ramah lingkungan.


Stakeholder interview juga dilakukan Team Bumi dengan Kepala Desa Parewatana, Umbu Pabal saat Team Bumi melakukan sensing di Sumba.



Tentang Permasalahan dan Potensi Desa


Team Bumi mengunjungi dua desa di Kabupaten Timor Tengah Utara, satu desa di Kabupaten Sumba Timur, dan satu desa di Kabupaten Sumba Tengah pada bulan November 2018. Di sana Team Bumi menemu beberapa penenun dan penganyam perempuan.


Desa pertama yang Team Bumi kunjungi adalah desa Lanaus, Kec. Insana Tengah, Kab. TTU. Mayoritas pekerjaan warga adalah petani. Laki-laki usia muda banyak yang berprofesi sebagai tukang ojek, supir bemo, dan kondektur bemo atau bis. Ada pula mama-mama penenun. Saat kami numpang berteduh dari hujan di salah satu rumah warga, beliau bercerita bahwa beberapa tahun lalu, beliau dan suaminya tiga tahun lalu merantau ke Kalimantan selama lima tahun, bekerja sebagai buruh kebun kelapa sawit. Upah mereka ditabung untuk membangun rumah dan membeli bemo bekas untuk modal usaha suaminya. Ternyata ada cerita di balik kontrasya perbedaan rumah yang masih berdinding bebak dan rumah berdinding batako. Kebanyakan warga yang bisa membangun rumah berdinding batako memiliki satu atau dua orang anggota keluarga yang merantau. Hal lain yang perlu jadi perhatian adalah, desa tersebut merupakan salan satu desa penghasil sopi (minuman keras tradisional dari NTT) sehingga mabuk menjadi hal yang lumrah bagi warga di sana, khususnya remaja laki-laki. Jelas sudah bisa tertebak akibat apa yang ditimbulkan dari maraknya konsumsi minuman keras. Kekerasan dan pendidikan anak yang terbengkalai karena mereka (kaum pria) lebih memprioritaskan beli sopi dari pada membiayai kebutuhan sekolah anak. Potensi apa yang dimiliki desa tersebut? Lokasi desa tersebut terletak tepat di kaki gunung ---. Lokasinya sangat strategis untuk dikembangkan menjadi desa wisata, terlebih dengan akses jalan yang bagus. Setiap warga memiliki lopo tradisional di halaman rumahnya yang digunakan untuk menyimpan hasil panen. Mereka biasa menimbun hasil panen hingga untuk stok pangan satu tahun. Setiap suku di desa tersebut memiliki kompleks rumah adat yang unik dan penuh histori. Yang perlu ditata adalah management limbah karena kebanyakan warga membuang sampah di pekarangan rumah.



Hasil dari kunjungan kami ke Lanaus adalah terbentuknya kolaborasi antar 16 organisasi dan komunitas di YAF 2018 untuk menjalankan program bernama Lanaus Memanggil, yaitu program rehabilitasi bangunan fisik sekolah yang kondisinya sangat memprihatinkan.


Dari Lanaus, kami menuju Desa Suspini untuk menemui penenun dan pengerajin anyam. Masih ditemukan penenun yang menggunakan teknik tradisional, dari menanam kapas, memintalnya, memberi warna pada benang dengan menggunakan bahan alam seperti dedaunan dan akar pohon, baru kemudian menenunya. Prosesnya memakan waktu lama, hampir 1 bulan untuk 1 kain sarung. Proses yang panjang, namun ini adalah tradisi yang perlu dilestarikan, selain itu proses ini ramah lingkungan. Sayangnya pengerajin yang Team Bumi temui selama perjalanan di Pulau Timor kebanyakan bekerja sendiri-sendiri, tidak berkelompok. Selain itu, mayoritas pengerajin adalah perempuan berusia lanjut. Anak-anak muda zaman sekarang tidak melihat aktifitas tenun dan anyam sebagai sebuah kegiatan yang dapat menghasilkan uang.


Proses sensing kemudian Team Bumi lanjutkan di Sumba, diwakili oleh Alivia dan Sofi. Harapannya, Team Bumi dapat menemukan calon partner untuk menjalankan project Bumi Kami. Ekspektasi Team Bumi awalnya adalah dapat menemukan kelompok pengerajin. Ternyata yang Team Bumi temui bukan kelompok, melainkan individu yang menekuni anyaman sebagai pekerjaan sampingan.


Ada dua orang yang Team Bumi temui. Mama Mita Raja dan Bapa Kia Ba’o. Keduanya sudah berusia lanjut. Sama seperti yang Team Bumi temui di Timor, orang-orang muda tidak melihat aktifitas pengerajin sebagai aktifitas yang menjanjikan. Mama Mita dan Bapa Kia juga hanya membuat produk anyam di malam hari, sembari nonton tv. Kualitas produk yang dihasilkan juga sangat bagus. Mereka membuat tas, kotak persembahan, dan piring. Piring yang mereka buat sering disewa tetangga untuk acara pesta. Yang menarik juga, mereka mendaur ulang gelas plastik kemasan sekali pakai dalam produk anyam mereka. Seperti yang umumnya kami temui di desa-desa di NTT, warga kecanduan menggunakan produk air minum kemasan plastik sekali pakai karena menganggap itu praktis. Dalam satu minggu, mereka bisa me-recycle 1 karung sampah gelas plastik. Kami melihat mereka sebagai pahlawan lingkungan yang sesungguhnya.


Sangat disayangkan kegiatan ini tidak dijadikan usaha desa. Palakahembi memiliki banyak sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan, seperti rotan, kelapa, dan palmyra.


Kelompok tenun memang belum terbentuk di Palakahembi, tapi team Bumi berencara untuk tetap mengajak Mama Mita dan Bapa Kia sebagai partner produsen produk kami.




Team Bumi melanjutkan perjalanan ke Desa Parawetana. Team Bumi memperoleh kabar bahwa di sana ada kelompok pengerajin anyam perempuan. Setibanya di sana, Team Bumi disambut oleh Bapa dan Mama Kepala Desa, dan kelompok pengerajin perempuan. Sungguh senang akhirnya bisa menemukan kelompok pengerajin perempuan, apalagi anggota kelompok rata-rata ibu-ibu muda.


Team Bumi berkesempatan untuk melakukan shadowing terhadap mama kepala desa.


Membayangi (shadowing) berarti bahwa kita menemani seseorang untuk jangka waktu tertentu untuk mengamati orang tersebut dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Shadowing dilakukan kepada individu yang mungkin sangat berpengaruh dalam pengembangan kepemimpinan Anda ataupun individu yang berada dalam sistem Anda, yang selanjutnya disebut sebagai individu bayangan (shadowee). Dengan melakukan praktik ini diharapkan kita mendapatkan sebuah pengalaman yang menggugah sehingga dapat mendobrak cara kita memandang, cara kita mendengar, cara kita berpikir, dan cara kita bekerja.


Kelompok ini di pimpin oleh mama Kepala Desa. Team Bumi sempat mengikuti aktifitas keseharian beliau selama setengah hari. Karena saat itu hampir memasuki musim tanam, mama sibuk mengurusi persiapan musim tanam. Di Sumba Tengah, musim tanam hanya terjadi selama tiga bulan dalam setahun. Dalam rentang waktu tiga bulan tersebut, warga desa, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda akan turun ke sawah dan mengerjakan pekerjaan tani Bersama-sama. Hasil tanam kemudian digunakan untuk stok pakan selama satu tahun. Mama Kades merintis kelompok pengerajin tiga bulan lalu. Beliau mengumpulkan ibu-ibu muda untuk diajarkan menganyam dan menjahit. Mama Kades juga selalu membawa buku catatan, beliau mencatat perkembangan kelompok, masukan, serta rencana kerja. Beliau bercerita pada Team Bumi perihal status perempuan di desa. Perempuan di desa ini belum diperhitungkan suaranya dalam pengambilan keputusan baik dalam segi ekonomi, budaya, dan social. Kerja sama dengan Bumi Kami diharapkan bisa memberdayakan perempuan-perempuan di desa sehingga mereka bisa mandiri secara ekonomi. Berdaya nya perempuan tentu bia meminimalisir terjadinya kasus KDRT, perdagangan manusia, dan malnutrisi pada anak. Angka kesejahteraan desa diharapkan meningkat dengan dibekalinya para perempuan dengan keterampilan menganyam. Selain itu, budaya juga dapat terus dilestarikan.


Sayangnya, mesin jahit kelompok hanya ada satu. Bapa Kades merencanakan pembelian dua mesin jahit tambahan dari anggaran dana desa tahun depan. Kesulitan lain yang dimiliki kelompok ini adalah kesulitan bahan baku. Mereka memiliki bambu yang berlimpah. Namun bahan baku anyam lain seperti rotan dan daun palm harus didatangkan dari Sumba Timur yang wilayahnya dekat pantai. Selain itu, rotan di wilayah Sumba Tengah sudah dilarang untuk diambil karena langka. Hal ini menunjukkan bahwa warga desa belum bisa memanfaatkan sumber daya alam dengan memperhatikan kelestarian sumbernya.


Masalah lain adalah kurangnya pemahaman dan inovasi terhadap product design. Hal ini tidak hanya terjadi di Parawetana, tapi juga pada pengerajin-pengerajin yang kami temui di Palakahembi dan Suspini. Karena market mereka terbatas pada warga lokal, mereka hanya membuat produk yang biasa dipakai oleh warga lokal, seperti kotak persembahan.


Dengan dukungan dari mama Kepala Desa dan kemahiran perempuan-perempuan di Parawetana, Team Bumi yakin kami dapat berkolaborasi dengan baik.



Setelah melakukan sensing, Team Bumi banyak menemukan hal yang diluar ekspektasi kami. Team Bumi mengira akan menemukan kelompok yang sudah siap produksi produk sesuai dengan arahan design dari Team Bumi. Meskipun pengerajinnya ada, namun Team Bumi harus mundur beberapa langkah ke tahap pembinaan perihal desain produk.


Team Bumi memutuskan untuk melanjutkan kerja sama dengan kelompok pengerajin di desa Parawetana karena pengerajin di desa-desa lain yang kami temui bergerak secara individu, dibutuhkan waktu yang lama untuk membentuk sebuah kelompok. Di Parawetana, kelompoknya sudah siap, Team Bumi hanya perlu mencari jalan keluar atas ganjalan-ganjalan yang mungkin menghambat proses produksi. Selain itu kami memperoleh dukungan penuh dari perangkat desa.


Kami masih perlu memikirkan bentuk program seperti apa yang bisa kami lakukan untuk mengembangkan potensi Parewetana. Kami memutuskan untuk melakukan sensing di Yogyakarta, dengan bantuan Owi dan kak Stefani, kami mengagendakan perjalanan ke sentra pengerajin di Yogyakarta. Kak Solviana tidak dapat bergabung karena jarak yang jauh. Sementara Nara masih dalam pekan ujian, sehingga hanya Alivia, Meriza, Salman, dan Owi yang akan melakukan sensing ke Yogyakarta. Nara dijadwalkan untuk melakukan sensing di Bali.


Team Bumi mengunjungi sentra pengerajin Batik di Giriloyo, Bantul, Yogyakarta. Di sana, para pengerajin batik diwadahi oleh paguyuban dan mereka Bersama-sama mengelola galeri batik yang menjadi pusat pariwisata desa. Di galeri batik yang mereka kelola, mereka tidak hanya memamerkan batik hasil produksi, tapi juga membuka showroom proses membatik, kelas membatik, dan pertunjukan seni budaya. Tidak hanya kain yang mereka produksi, tapi beragam produk fashion seperti dress, kemeja, tas, pouch, bandana, dan sebagainya.


Masih di sekitar Imogiri, kami kemudian melanjutkan perjalanan, mencari sentra pengerajin bambu, setelah tersesat di 3 desa, kami menemukan sebuah desa di mana mayoritas masyarakatnya menganyam bambu, selain beternak dan bertani. Desa tersebut memiliki banyak sekali pohon bambu. Salah seorang yang Team Bumi temui adalah pengepul kerajinan dari para pengerajin. Produk-produk dari desa ini sudah banyak di ekspor ke luar negeri. Mereka bahkan menyanggupi pesanan sesuai keinginan pembeli. Di desa tersebut, juga terdapat sekolah menengah kejuruan dengan jurusan pahat/ukir, tata busana, dan tata boga. Tak heran anak-anak muda di sana masih mewarisi keterampilan dari orang tua mereka.


Kami kemudian pergi ke beberapa desa di Sleman berdasarkan informasi bahwa ada beberapa sentra pengerajin di sana. Kami menemukan sentra pengerajin bambu, namun hanya galeri produk, dan kebanyakan pengerajin di Sleman hanya memproduksi barang-barang yang sudah ada dalam list produk mereka. Bahan baku bambu pun didatangkan dari desa lain.



Perjalan sensing memberikan Team Bumi bekal untuk mempersipakan program apa yang akan Team Bumi jalankan untuk memajukan dan mensejahterakan kelompok pengerajin perempuan Parewatana. Team Bumi juga akan melibatkan mereka dalam upaya mempromosikan Sustainable Tourism Industry untuk menjaga kelestarian tempat wisata. Program kami adalah menjadikan Parewatana sebagai destinasi wisata budaya baru. Kami menggunakan kelompok pengerajin perempuan di Parewatana sebagai entry point kami. Harapannya, kami bisa memperkenalkan Parewatana ke khalayak umum melalui produk kerajinan Parewatana.



1 Comment


Team Bumi
Team Bumi
May 04, 2019

😍

Like

Desa Umbu Pabal, Kecamatan Umbu Ratu Nggay Barat,
Kabupaten Sumba Tengah  |  +62 852 5302 5000

© 2019 by Team Bumi Kami. Proudly created with Wix.com

Thanks for submitting!

Join our mailing list

Youtube.png
Twitter.png
Instagram.png
Facebook.png
bottom of page