Team Bumi in Young Changemakers Social Enterprise Academy - Pra-Event
- Team Bumi

- Mar 17, 2019
- 8 min read

Bumi Kami adalah sebuah earthpreneur project yang diinisiasi oleh sekelompok alumni Youth Action Forum 2018. Dari 60 individu, dengan 60 ide, disaring menjadi 20 ide. 20 ide tersebut kemudian memperoleh kesempatan untuk ideas pitching selama 1 menit untuk kemudia disaring menjadi 10 besar. 10 besar ide kemudian memperoleh kesempatan untuk melakukan sensing. Sensing adalah sebuah proses pembelajaran yang memungkinkan kami keluar dari rutinitas dan secara langsung mengalami/merasakan sebuah sistem melalui kacamata pemangku kepentingan yang berbeda. Perjalanan sensing membawa kami turun ke lapangan dimana pengalaman yang nantinya diperoleh akan menjadi aset paling relevan untuk inisiatif/ide yang akan dikerjakan. Kami dibekali beberapa tools untuk proses sensing diantaranya stakeholder interview, shadowing, dialog walk, empathy walk, check in, journaling, dan mindfulness. Team Bumi melakukan sensing di Sumba Timur, Sumba Tengah, Kota Kupang, Kab. TTU, dan Yogyakarta. Kami kemudian menyempurnakan rencana program berdasarkan hasil sensing journey. Dari 10 kelompok yang mengajukan dana untuk pelaksanaan prototype program, Team Bumi masuk dalam 3 besar kelompok dan memperoleh dukungan dana dari United in Diversity.
Youth Action Forum 2018, membekali Team Bumi dengan beberapa ilmu seperti Theory U dan System Thinking yang sangat bermanfaat dalam meningkatkan kapabilitas masing-masing individu dalam memimpin dan berkerja dalam team. Namun, project yang kami jalankan lebih spesifik kepada pendirian sebuah bisnis sosial, sehingga kami membutuhkan lebih banyak pengetahuan seputar bisnis sosial. Kami kemudian mengikuti Young Changemakers Social Enterprise Academy. YCSE Academy merupakan sebuah academy selama 3 bulan untuk mengembangkan kapasitas YSEALI member di Indonesia untuk menjadi social entrepreneur. Academy ini memfasilitasi peserta dengan 4 sesi Coaching Class seputar social entrepreneur. Selain itu, 10 Team yang lolos seleksi akan memperoleh kesempatan mengikuti bootcamp di Bandung dan Jakarta, 19-24 Maret 2019. Team Bumi mengikuti proses seleksi setelah mengikuti 4 sesi Coaching Class yang diadakan di @america dan Campaign Hub. Team Bumi harus membuat laman campaign yang berisikan deskripsi detail mengenai project Bumi Kami. Dalam laman campaign Bumi Kami, Team Bumi menjabarkan project’s goals, deskripsi project, anggota team dan peran masing-masing dalam team, isu yang diperhatikan, konsep project, dan dampak project. Laman campaign pendaftar kemudian dinilai dan disaring menjadi 20 besar. Penentuan 10 besar Team yang memperoleh kesempatan mengikuti bootcamp adalah melalui public vote di aplikasi Campaign. Alhamdulillah, Puji Tuhan, Team Bumi lolos seleksi. 3 perwakilan Team Bumi akan mengikuti bootcamp YCSE Academy 2019.
Berikut ini adalah catatan kami dari Coaching Class YCSE Academy 2019.
Coaching Class #1 – How to make a perfect proposal (Summarized by Alivia)
Coaching Class yang pertama difasilitasi oleh David Christian, Co-Founder Evoware. David memberikan tips dan trik dalam membuat proposal yang menarik. David membuka sesi Coaching Class dengan menceritakan latar belakang Evoware.
Dalam membuat proposal yang menarik, pertama harus menentukan kepada siapa proposal ini ditujukan. Proposal yang ditukan kepada calon investor akan memiliki konteks yang berbeda dengan proposal partnership dengan stakeholder. Selain itu, proposal juga harus bisa menyampaikan dengan jelas deskripsi dan lingkup bisnis yang dijalankan. Proposal yang dibuat, sebaiknya memiliki pitch deck outline sebagai berikut:
Business description
Problem
Social enterprise model (business model)
Innovation/solution
Market analysis
SWOT analysis/Competitor assessment
Operating plan
Marketing plan
Projection of social impact
Current achievement/impact/milestone
Team
Financial projection
Kunci dalam membuat proposal yang menarik adalah memahami dengan baik bisnis yang dijalankan, memberikan statement atau pesan yang meyakinkan, memiliki visual yang menarik, dan melakukan diskusi dengan orang lain untuk memastikan kalau orang lain dapat memahami konten proposal yang dibuat dan dapat memberikan masukan. Memahami target dan melakukan riset juga perlu dilakukan untuk membuat proposal untuk calon investor. Menjadikan proposal milik bisnis-bisnis yang sudah sukses sebagai referensi juga bisa membantu proses pembuatan proposal. Dateline dalam pembuatan proposal untuk calon investor juga perlu diperhatikan. Dalam email, subject dan body mail juga perlu diperhatikan secara detail.
David kemudian membahas lebih detail tentang kunci dalam pembuatan proposal yang sebelumnya telah dijelaskan. Dalam menjelaskan business plan, salah satu tools yang dapat digunakan adalah business model kanvas. Tools ini memberikan kemudahan dalam menjabarkan konsep bisnis. Yang kedua, dalam memberikan statement atau pesan yang meyakinkan, perlu dipastikan bahwa pesan tersebut singkat, padat, dan jelas, menggunakan judul yang menarik, jelas dalam menyampaikan target, informatif, perkuat dengan data dan gambar, serta bisa mengajak orang yang membaca utuk turut serta dalam upaya mencapai target yang ingin dicapai bisnis sosial yang diajukan. Secara visual, agar proposal menarik, gambar dan ilustrasi dapat digunakan. Design proposal sebaiknya simple dan jelas, mengikuti guideline dari pemberi grant, dan lebih visual, serta menggunakan poin-poin.
Sesi kemudian dilanjutkan oleh Sizigia Pikhansa, salah satu Team Evoware. Sizigia menunjukan contoh proposal Evoware. Proposal yang ditampilkan memiliki pitch deck outline seperti list yang sudah ditulis sebelumnya.
Di akhir sesi, kami diminta untuk berlatih membuat business canvas model. Team Bumi kemudian menggunakan sesi pertama Coaching Class YCSE Academy untuk memperbaharui proposal yang kami buat sebelumnya (sebelum ini Team Bumi membuat proposal untuk pengajuan dana pelaksanaan prototype program ke United in Diversity).
Coaching Class #2 - Journey from 0 to 1 (Summarized by Meiza)
Sesi Coaching Class kedua difasilitasi oleh Helga, Co-Founder Burgreens. Helga membagikan sepak terjang yang dilaluinya dalam mendirikan Burgreens. Berikut ini adalah beberapa catatan kami dari sesi Coaching Class #2.
5 area yang perlu di kuasai oleh anak muda dalam social entrepreneur:
People : kesuksesan company berdasarkan orang-orang yang menjalankannya. Mastering people by putting the right people on the right place.
Strategy : sebuah company memiliki strategy bagus jika revenue company tersebut bertumbuh. Providing the right solutions to the right market / customers at the right place.
Execution : (Operation) seberapa efisien kita bisa mengoperasikan bisnis kita. Jika eksekusi bagus maka profit marginnya sehat, jika sebuah company yang sedang bertumbuh terus-terusan tapi tidak memiliki profit yang baik, bisa jadi company tersebut memiliki masalah dalam eksekusi contohnya SOP in place, waste di row material, waste human resource or waste of time.
Cash : Cash liquid yang bisa kita pakai. Hal ini dibutuhkan untuk berjaga-jaga kalau customer bayar setelah project selesai. Banyak company bangkrut bukan karena mereka tidak profitable namun karena mereka tidak memiliki cash liquid untuk membayar operasional,dll. Ada dua macam cash liquid yaitu Internal (dari revenue), ataupun external (investor, bank, keluarga).
Purpose and Impact : Settled fulfilment (perasaan semangat dan bahagia saat bekerja/ menjalankan sesuatu yang berhubungan dengan company) and Sutainability (company memikirkan environment dan natural resources yang ada).
4 Tahap pre – work:
Finding your “why” dan aligment with your business. Saat kita tidak punya apapun “finding your why” ini sangat memberikan energi.
2 – 3 Founder n co-founder is enough until 3 years.
Core utk bisnis – product innovation, marketing and sales, finance and operation. Produk yang baik adalah produk yang menjawab kebutuhan customer yang akan selalu bertambah kedepannya.
Learn as much as possible. Memperlengkapi diri kita dengan banyak informasi danbelajar dari orang-orang yang telah melaluinya.
Identifying your markets:
What is the necessary and sufficient condition for a business?
Paying suctomer : the person that is paying your company for the product
Bussiness Oportunity : Needs of paying customer
Location : How much they will spend on product
Research idea
Research based on market segmentation. We have to find potential future paying customers
Pursue information and potential opportunities.
What fits your skill set?
The target market consists of our Values, Passions, Goals, and Aspirations of the entrepreneur.
Selepas sesi, kami diminta untuk berlatih membuat identifikasi market untuk bisnis yang kami jalankan.
Coaching Class #3 - Planning for sustainability (Summarized by Eka)
Sesi Coaching Class #3 difasilitasi oleh Azalea Ayuningtyas CEO Du’anyam dan Ivan A. Sanjaja Managing Director at Global Entrepreneur Network Indonesia.
Dibuka dengan video expert series dengan tema entrepreneurship developing a business model. Video ini membahas tentang learning objectives yang akan dibahas di Coaching Class kali ini yaitu:
What is the business model
What does scalability mean
What is the essence of a pitch?
Sesi selanjutnya Pak Ivan membahas materi tentang planning for sustainability though innovation.
Dalam sesi ini pak Ivan mengartikan business model sebagai rangkuman dari apa yang start-up lakukan secara konfrehensif, business model ini juga digunakan sebagai alat bantu untuk menangkap point-point yang akan dibicarakan di pitching. Pak Ivan juga membahas tentang perbedaan growing dan scaling, dimana growing adalah bertumbuh sedangkan scaling adalah berkembang dan sejauh mana bisnis ini akan meluas.
Dari penjelasan diatas kata kunci agar bisnis dapat sustain adalah inovasi. Perlu diketahui juga bahwa inovasi dan penemuan itu berbeda. Inovasi adalah temuan yang menjadi solusi agar orang dapat membeli dan mempunyai nilai. Penemuan adalah teori baru dan produk baru namun belum ada nilai ekonominya.
Hal yang menarik dari penjelasan inovasi yaitu term dari Ten types of Innovation. Inovasi adalah proses yang setiap pengusaha harus lakukan. Teori ini berfokus pada 3 hal. Pertama adalah configuration (meliputi inovasi di bagian profit model, network, structure, process), kedua adalah offering (meliputi inovasi pada product performance dan product system), dan yang ketiga adalah experience (meliputi inovasi di bidang service, channel, brand dan engage customer).
Mengambil contoh kasus Blackberry dan Nokia yang sudah meredup dikarenakan tidak mengeluarkan inovasi baru. Seringkali kita terlalu berfokus kepada produk performance padahal seharusnya banyak hal yang harus dilihat. Di teori 10 types of innovation, configuration di Bisnis Model Kanvas berada pada key partners, key activities, cost structure, dan key resources. Untuk offering berfokus hanya pada value proposition. Untuk experience yaitu customer relationship, channels, revenue streams.
Mengambil contoh selanjutnya dari McDonald. Inovasi bukan hanya berfokus pada produk namun inovasi pada konfigurasinya, juga inovasi di networknya yaitu global partner. Contoh lainnya adalah inovasi mobil lexus mereka melakukan inovasi dibagian network, product performance, service, channel.
Pemaparan selanjutnya dari ka Ayu dari Du’Anyam dalam membahas produk du’anyam. Diawal Du’anyam membahas problem dan solution dari product mereka. Du’Anyam menceritakan bagaimana bisnis mereka berkembang. Di dalam pitch kita juga harus mempunyai data dan cerita untuk bisa diceritakan dalam waktu yang singkat (elevator pitch). Bisnis yang sustainable belum tentu harus scalable, dalam bisnis kita harus berfikir dengan panjang (kita harus menyakinkan diri bahwa kita mau melakukan bisnis ini sampai jangka panjang).
Tips untuk menjadi scalable?
Menggunakan technology
Win-win collaboration
Build capable Team
Extra tips dari Du’Anyam
Ikut bisnis kompetisi, lalu formalize your idea dan dapatkan feedbacks
Jejaring, jejaring, jejaring, datang ke acara-acara
Temukan mentor dan jaga hubungannya
Sesi selanjutnya adalah sesi group discussion dengan tema mencari 3 perusahaan yang sustainable disertakan dengan alasannya. Kelompok kami memilih The Body Shop sebagai salah satu contoh perusahaan yang sustainable. Industri kecantikan merupakan salah satu industry yang memiliki continues demand. The Body Shop menghadirkan produk-produk yang ramah lingkungan dan vegan friendly. Menjadikan industri ini tidak hanya memberikan produk yang sehat dan berkualitas, tetapi juga meminimalisir dampak buruk terhadap alam.
Coaching Class #4 – Measuring Your Impact (Summarized by Eka)
Sesi ini difasilitasi oleh Romy Cahyadi, CEO Instellar. Dibuka dengan pembahasan teori golden circle oleh Simon Sinek untuk menemukan our why dalam membuat sesuatu. Selanjutnya pak Romy memaparkan hasil riset dari Pertamina yang mengemukakan bahwa ciri-ciri perilaku milenial adalah mereka lebih suka membeli sesuatu yang mempunyai nilai sosial, yang kedua milenial lebih suka bekerja dengan sesuatu yang meaningful (bekerja untuk mendapatkan impact untuk sekitar). Artinya dari sisi pasar dan konsumen bahwa kita sedang mengalami transisi, selanjutnya dari sisi investasi, disini terdapat investasi yang bernama impact investment yaitu orang-orang yang mencari hanya khusus sosial entreprise dan ini tumbuh sangat besar sekali, selanjutnya kebanyakan sosial entreprise belum menggunakan alat ukur bagaimana sosial impactnya bisa dikomunikasikan dengan baik.
Maka sebelumnya kita harus mencari tahu tujuan sosial entreprise kita dari tiga aspek yaitu ekonomi, social, dan lingkungan. Manakah yang paling prioritas yang diberikan waktu untuk para peseta dapat menggali tujuan utama apa yang menjadi hal utama. Selanjutnya pak Romy pun mengenalkan metode STAR. Metode ini berisikan yang pertama adalah harus ada kata kerjanya, yang kedua adalah target populasi (siapa yang dijadikan sasaran), dan yang ketiga hasil akhirnya apa. Pesan perusahaan seharusnya jangan lebih dari 8 kata. Sebagai contoh dari TESLA, “To accelerate the world with sustainable transport”. Selanjutnya pak Romy pun mempersilahkan masing-masing tim untuk menentukan kalimat dari metode STAR yang diajarkan.
Masuk ke latihan berikutnya yaitu tentukan 3 angka atau 3 ukuran/indicator yaitu harus mengukur target populasi, quality of impact, ukuran dari sisi bisnisnya (yg bisa mengukur kemajuan bisnis kita) disini pula harus diukur dengan lamanya (waktu). Disini para peseta juga diberikan waktu untuk dapat menggali dan mengukur sosial impact dari masing-masing.
Latihan berikutnya adalah membahas tentang teory of change, NGO paling banyak menggunakan teori ini. Teori ini membahas bagaimana kita menunjukan kepada tim kita dan orang lain bagaimana perusahaan mewujudkan perubahan. Di teori ini meliputi input (resources), kegiatan, output (ukuran dalam aktifitasnya) dan outcomes (perubahan yang kita harapkan). Disini juga diberikan waktu kembali untuk memaparkan teori yang telah dipelajari.
Setelah coaching class ini diharapkan agar para peseta dapat mengukur seberapa pengaruhnya bisnis sosial yang kita jalankan menurut indikator-indikator yang telah kita tentukan di awal, sehingga mudah bagi kita dan juga para investor atau pihak lain untuk melihat dan mengukur sejauh mana usage ini berpengaruh.
Teman-teman juga dapat mengikuti online course prihal entrepreneurship.
Fundamentals of Starting and Running a Business
Kursus ini menjelaskan aspek-aspek penting dari kewirausahaan, dari proses pengembangan bisnis, hingga bagaimana mengidentifikasi dan memperluas pasar, dan bagaimana melenggang ke investor baru. Ambil kursus onlinenya di sini.
Fundamentals of Business Expansion Pertumbuhan adalah salah satu tantangan terbesar bagi sebagian besar bisnis. Pelajari cara mengumpulkan modal dan mewujudkan pertumbuhan dengan menggunakan model bisnis Anda untuk menilai pasar baru dan potensial untuk ekspansi. Ambil kursus onlinenya di sini.



Comments