Alivia Alfiarty in Youth Action Forum 2018
- Team Bumi

- Jan 1, 2019
- 6 min read
Updated: May 4, 2019

Saya beruntung dapat diterima untuk menimba ilmu perihal kepemimpinan dan program pemberdayaan berkelanjutan di Youth Action Forum 2018 yang diselenggarakan oleh United in Diversity dan SDSN Youth. Youth Action Forum 2018 diselenggarakan pada tanggal 29 Oktober hingga 1 November di UID Learning Hub, Jakarta.
Youth Action Forum adalah sebuah learning journey yang diperuntukan untuk pemuda/i yang memiliki inisiatif untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik untuk organisasi maupun komunitasnya. Tujuan dari forum ini adalah memperluas jaringan, meningkatkan kapabilitas kepemimpinan serta menciptakan peluang kolaborasi dan aksi kolektif untuk Solusi Berorientasi Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Oriented Solutions (SOS) di Indonesia.
Dalam proses pendaftaran, saya diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan diantaranya motivasi mengikuti Youth Action Forum 2018, permasalahan sosial/lingkungan disekitar saya dan apa yang sudah saya lakukan mengenai permasalahan tersebut, bagaimana saya mengukur keberhasilan diri bersama organisasi dalam menerapkan solusi tersebut, bagaimana pengalaman saya memimpin, hambatan apa saja yang saya hadapi selama memimpin dan bagaimana saya mengatasi hambatan tersebut. Saya juga diminta untuk melampirkan CV.
Karena saya mendaftar Youth Action Forum ini untuk mewakili Komunitas Aksi untuk NTT, maka saya menjawab pertanyaan itu berdasarkan program dan kondisi dalam komunitas. Begitu banyak kegiatan yang sudah dilakukan oleh komunitas Aksi untuk NTT, karenanya saya hanya membawa program Sekolah Binaan yang sudah kami lakukan secara berkelanjutan selama satu tahun terakhir. Saya menjelaskan latar belakang kami mengadakan program kunjungan sekolah di SMAN 2 Takari Kelasfilial Meobesi dua tahun silam dan apa yang menjadi dasar pertimbangan kami untuk menjadikan sekolah tersebut sebagai sekolah binaan komunitas kami di tahun 2018. Saya juga menjabarkan kegiatan apa saja yang sudah kami lakukan dalam kunjungan rutin kami ke sekolah tersebut. Kemudian saya menjabarkan parameter keberhasilan apa saja yang menjadi pedoman kami.
Untuk menjelaskan perihal pengalam saya dalam memimpin, saya juga menceritakan pengalaman saya selama berkegiatan bersama tim Aksi untuk NTT. Kendala yang saya alami adalah komunikasi jarak jauh karena sejak bulan Juni 2016 saya tidak lagi berdomisili di kota Kupang. Meskipun saya tidak lagi berdomisili di Kupang, kegiatan-kegiatan Aksi untuk NTT terus berjalan, bahkan semakin massive. Ini membuktikan bahawa anggota tim kami memiliki kualitas pemimpin yang memiliki inisiatif dan komitmen yang patut dibanggakan. Secara pribadi, rasanya saya perlu meningkatkan kualitas public speaking saya, karena jujur saja, dua tahun terkurung di laboratorium dan hanya berinteraksi dengan microalga membuat saya jadi sedikit gelagapan ketika berbicara di depan banyak orang. Harapan saya, dengan mengikuti Youth Action Forum, saya jadi bisa lebih terstruktur ketika berbicara di depan banyak orang.
Alhamdulillah, saya dinyatakan lolos seleksi tahap pertama dan dijadwalkan untuk interview via telepon untuk seleksi tahap dua. Sepanjang hari saya gugup gelisah menunggu telepon masuk. Saat interview via telepon, saya di minta untuk menjabarkan kembali perihal komunitas yang saya wakili. Sayapun menceritakan program apa saja yang sedang dijalankan oleh Aksi untuk NTT. Kali ini, karena tidak ada batasan kata, saya dengan bebas bisa menceritakan program kami yang lain seperti program kunjungan sekolah dan Aksi Untuk Alam.

Alhamdulillah (2) saya dinyatakan lolos untuk mengikuti Youth Action Forum. Hari pertama Youth Action Forum, kami berkenalan dengan para fasilitator dari UID dan dengan para peserta yang berjumlah 61 orang. Kami, peserta Youth Action Forum 2018, berasal dari 18 Provinsi dan 33 kota/kabupaten. Selain berkesempatan untuk bertemu dengan para pemimpin muda dan berbagi cerita dan pengalaman dengan mereka, saya juga berkesempatan untuk belajar tentang System Thinking dan Theory U, yang jujur, baru saya ketahui ketika mengikuti forum ini. (klik untuk mengunduh bahan baca tentang Theory U dan System Thinking). Fasilitator-fasilitator dari UID sangat menyenangkan dan professional. Selain itu, para peserta YAF 2018 juga berkesempatan bertemu dengan pemateri-pemateri handal seperti Bapak Eko P. Sandjojo (Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia), Ibu Mari Elka Pangestu (President of UID Foundation), Ibu Tri Mumpuni (Founder of IBEKA) beserta suaminya, Bapak Iskandar B. Kuntoadji (yang bagi saya Couple Goals banget – maafkan bahasa yang mendadak jadi informal), Kang Yoto - Bupati Bojonegoro Periode 2008-2018 (fasilitator YAF 2018 terfavorit -bagi saya-, saya sampai membeli semua buku tentang Kang Yoto dan menjadi sangat rajin nonton video-video tentang Kang Yoto), Bang Onte / Silverius Osca Unggul (Founder of Telapak), dan Bang Jalal (Founder of Social Investment Indonesia). Para fasilitator-fasilitator tersebut menceritakan pengalaman mereka membangun dan mengembangkan program-program di instansi/yayasan/organisasi/komunitas mereka. Sangat tepat UID mengundang mereka karena mereka adalah contoh nyata dari aplikasi Theory U dan System Thinking. Bagi saya, mereka adalah orang-orang yang bekerja tidak hanya dengan akal pikiran, tetapi juga dengan hati nurani. Saya sampai ikut menangis saat Kang Yoto bercerita tentang tanggul yang hampir jebol dan mengancam puluhan hektar lahan padi siap panen. Mata Kang Yoto sampai berkaca-berkaca saat menceritakan peristiwa itu.
Kami juga berkesempatan untuk berdiskusi dengan para pemimpin muda diantaranya Bang Goris Mustaqim (Founder of Yayasan Asgar Muda), Kak Azalea Ayuningtyas (Founder of Du’Anyam), Ayu Kartika Dewi (Founder of Sabang Merauke), dan Kak Arwin (Aparatur Muda Indonesia). Selain itu, banyak praktek-praktek yang bagi saya dapat memperluas perspective, menstimulus kreatifitas, empati, attention to details, dan dapat membangun koneksi dengan tubuh melalui mindfulness. Saya memperoleh insight baru mengenai sosok pemimpin seperti apa komunitas saya butuhkan, dan bagaimana saya bisa menjadi seorang pemimpin yang baik.

Di akhir acara, kami diminta untuk membentuk kelompok dan merancang sebuah program untuk dijalankan selama 6 bulan ke depan. Alhamdulillah, saya dipertemukan dengan anggota tim yang luar biasa, diantaranya kak Meriza Nathaniel (Founder of Dream Catcher Indonesia), Dwi Pristiawati (yang memiliki segudang gelar duta dan komunitas), Kak Solviana Deak (Komunitas Literasi Bergerak Sumba Tengah), Salman Al-Farisi (Leader of World Merit Semarang), dan -the youngest one, 16 years old- Made Naraya (Founder of Angon Enterprise). Nama kelompok kami adalah BUMI KAMI. Dalam program yang kami rancang, kami akan berkampanye untuk meningkatkan kesadaran anak muda tentang pelestarian lingkungan dan kami akan menyediakan produk-produk yang dapat menunjang orang untuk menerapkan gaya hidup sehat dan minim sampah. Produk-produk yang kami jual akan diproduksi oleh kelompok pengerajin perempuan di pulau Sumba dan Timor. Diharapkan melalui kerja sama ini, kesejahteraan perempuan di desa dapat meningkat sehingga mereka tidak perlu merantau ke kota besar atau luar negeri untuk berkeja sebagai buruh. Selain itu, kami juga ingin mempertahankan budaya karena kebanyakan anak muda di desa-desa di Timor tidak bisa menenun dan membuat kerjajinan seperti orang tua mereka karena mereka tidak memandang aktifitas tersebut sebagai mata pencaharian yang potensial.
Bumi Kami melakukan tahap sensing sebagai tahap awal kami dalam menjalankan project. Sensing adalah sebuah proses pembelajaran yang memungkinkan kita keluar dari rutinitas dan secara langsung mengalami/merasakan sebuah system melalui kacamata pemangku kepentingan yang berbeda. Saya Bersama dengan Kak Solviana melakukan sensing di Sumba, kemudian saya Bersama dengan Kak Meiza, Dwi, dan Salman melakukan sensing ke Jogja dan Magelang, dan Nara melakukan Sensing di Bali. Saya, kak Meriza dan Nara juga sering bertemu (kebetulan kami berdomisili di kota yang sama) untuk mendiskusikan program kami. Selain itu kami juga rutin berdiskusi via group chat dan group call. Alhamdulillah, jarak tidak menjadi hambatan bagi kami untuk menjalankan program ini.
Saat melakukan perjalanan sensing di Kabupaten Timor Tengah Utara, saya tidak sengaja menemukan sekolah yang kondisinya sangat memprihatinkan. Atapnya bocor, dan bangunanya sudah hampir roboh. Saya membagiakan catatan perjananan saya pada teman-teman Youth Action Forum 2018 dan mereka langsung cepat tanggap untuk melakukan sesuatu untuk sekolah tersebut. 16 komunitas dan organisasi melalui Alumni Youth Action Forum 2018 kemudian menjalankan kampanye untuk menggalang dana untuk membangun sekolah tersebut. Komunitas dan organisasi yang berkolaborasi diantaranya Aksi untuk NTT @aksiuntukntt, Sahabat Pulau @idsahabatpulau, UID @uidindonesia, Rumah Pemimpin Muda @rumahpemimpinmuda, Green Education @greeneducations, Komunitas Muslim Inspiratif @komunitas_musliminspiratif, Sudut Lombok @sudutlombok, Komunitas Literasi Bergerak @klstframe, Kita Beraksi @kitaberaksi, Bidan Inisiator @bidaninisiator, I-YES @iyesindonesia, Smoke Free Agents @smokefreeagents, Brave Indonesia @official.braveid, We Help ID @wehelp.id, Dreamcatcher Indonesia @dream_catcherindonesia, dan IYES-Bengkulu @iyesbengkulu. Klik di sini untuk mengunjungi laman campaign kami.
Youth Action Forum tidak hanya memberikan kesempatan pada saya untuk bertemu dengan para memimpin muda, tapi juga kesempatan untuk berkolaborasi dengan mereka. Selain itu saya juga menyadari bahwa masih banyak anak muda di luar sana, khususnya NTT, yang belum paham mengenai program pembangunan berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs). Saya kemudian meruntut perjalanan Aksi untuk NTT, bagaimana kami berinovasi dalam merancang dan menjalankan sebuah program. Saya memperoleh kesempatan untuk memperluas kerja sama komunitas Aksi untuk NTT dengan komunitas dan organisasi lain yang memiliki visi dan misi yang sama. Selain itu banyak ide baru dalam kepala saya yang perlu segera saya laksanakan untuk komunitas saya. Bersama dengan tim Aksi untuk NTT, kami kemudian melakukan brainstorming bersama tentang program apa yang perlu kita jalankan dan bagaimana agar program-program kami dapat meningkatkan kesadaran anak-anak muda tentang pentingnya partisipasi mereka dalam pencapaian SDGs. Saya juga sering mempraktekan mindfulness dan journal, seperti yang saya lakukan sekarang, mencoba menceritakan pengalaman saya lewat tulisan. Saya bukan seorang penulis handal, karena itu mohon maaf pada struktur penulisan yang tidak karuan.
Saya masih perlu meningkatkan kemampuan saya dalam public speaking (Thanks to UID yang memberikan saya kesempatan untuk berbicara mengenai pengalaman saya mengikuti Youth Action Forum di momen Ulang Tahun UID), dan bagaiaman menjaga komunikasi dengan tim saya. Tim bagi saya adalah investasi terbaik. Seperti yang dijabarkan mengenai tujuan dari diselenggarakannya Youth Action Forum, bagi saya UID sukses mencapai tujuan-tujuan tersebut.


Demikian cerita saya mengenai Youth Action Forum. Semoga kalian juga bisa mengikuti Event ini tahun depan. Pantengin terus website nya untuk update mengenai incoming event.
Terima kasih kepada Mas Isra, Kak Dewi, Kak Sobhi, Kak Mita, dan Mas Gilang atas bimbingannya selama di Youth Action Forum 2018.
Nb. Selama kegiatan, saya sama sekali tidak menggunakan handphone untuk selfie maupun posting di social media. Saya sangat percaya bahwa sang fotografer akan melakukan tugasnya dengan baik. Terima kasih panitia, sudah mengabadikan momen-momen kami di Youth Action Forum 2018. Saya berusaha untuk HADIR PENUH & SADAR UTUH agar dapat mengikuti materi semaksimal mungkin.
Galeri Team Bumi di Youth Action Forum 2018.
DAY 1
DAY 2
DAY 3
DAY 4

































































































































































😍